
Video Guru Dikeroyok Murid di Tanjabtim, Heboh dan Jadi Sorotan Publik
FB News - Insiden pengeroyokan guru di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, mendadak menghebohkan publik setelah video kejadian beredar luas di media sosial. Guru bernama Agus Saputra mengaku sudah dua tahun mengalami perundungan verbal dari sejumlah murid sebelum akhirnya konflik memuncak menjadi bentrokan fisik.
Menurut Agus, teguran yang ia sampaikan kepada murid berupa kalimat motivasi justru dianggap menyinggung. Ketika murid membalas dengan kata-kata kasar, ia menampar siswa tersebut. Situasi semakin panas saat sekelompok murid menantang sang guru pada jam istirahat, hingga berujung pada pengeroyokan di area sekolah. Agus kemudian melaporkan kasus ini ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi untuk meminta perlindungan dan tindak lanjut.
Dari sisi murid, beberapa di antara mereka mengaku tersulut emosi karena merasa teguran sang guru merendahkan. Mereka menilai tindakan Agus yang menampar siswa memicu kemarahan, sehingga terjadi pengeroyokan. Dalam video yang viral, terlihat Agus sempat membawa celurit untuk membubarkan murid yang mengepungnya. Hal ini menimbulkan perdebatan: sebagian masyarakat menilai guru kehilangan kendali, sementara pihak lain menekankan bahwa murid sudah melampaui batas.
Pihak sekolah menyatakan akan melakukan investigasi internal dan menyerahkan kasus ini ke Dinas Pendidikan. Pemerintah daerah menegaskan bahwa insiden ini tidak boleh dibiarkan, baik tindakan murid maupun reaksi guru harus ditangani sesuai aturan. “Guru harus dilindungi, tapi murid juga berhak mendapat pembinaan. Kami akan menindaklanjuti dengan langkah hukum dan pendidikan,” ujar pejabat Dinas Pendidikan Jambi.
Masyarakat luas mengecam keras kejadian tersebut. Sebagian menilai insiden ini sebagai alarm bahaya bagi dunia pendidikan, di mana otoritas guru semakin rapuh dan murid menjadikan kekerasan sebagai bahasa perlawanan. Namun ada juga suara yang mengingatkan bahwa guru perlu menjaga cara berkomunikasi agar tidak menyinggung perasaan murid.
Kasus ini bukan sekadar persoalan individu, melainkan cermin krisis komunikasi dan etika di sekolah. Publik berharap penanganan dilakukan secara adil dan menyeluruh, sehingga guru tetap dihormati, murid mendapat pembinaan yang mendidik, dan ruang belajar kembali menjadi tempat yang aman serta penuh penghormatan. (NN)















