
Opini : Strategi Adu Domba terhadap Dunia Islam
FB News - Di Timur Tengah, konflik seolah tidak pernah berhenti. Banyak orang melihat bahwa sebagian besar masalah bukan hanya lahir dari dalam, tapi juga dari pihak luar yang sengaja memainkan strategi adu domba. Caranya mudah ditebak: satu negara dituduh, negara lain diminta percaya, lalu keduanya saling curiga. Akhirnya, umat Islam sibuk bertengkar sendiri, sementara pihak luar yang diuntungkan.
Salah satu contoh nyata adalah pengeboman kilang minyak di Arab Saudi. Begitu ada serangan atau kebakaran, tuduhan langsung diarahkan ke Iran. Media internasional ikut menggiring opini bahwa Iran adalah ancaman utama. Padahal, Iran berkali-kali membantah, menegaskan tidak pernah menyerang fasilitas Saudi. Ada analisis yang menyebut serangan itu bisa saja dilakukan pihak ketiga, lalu dituduhkan ke Iran, supaya hubungan Iran–Arab Saudi makin buruk.
Arab Saudi sering menerima tuduhan terhadap Iran tanpa banyak bukti. Akibatnya, hubungan kedua negara semakin renggang. Di satu sisi, Riyadh terlihat lebih dekat dengan Barat dan sekutu mereka. Tapi di sisi lain, strategi ini membuat dunia Islam makin terpecah dan sulit bersatu.
Selain serangan fisik, isu Sunni–Syiah, Wahabi, dan aliran lain juga sering dijadikan bahan adu domba. Perbedaan mazhab yang seharusnya bisa dikelola dengan dialog malah dipelihara jadi konflik. Inilah jebakan yang berbahaya: umat Islam diarahkan untuk saling menuduh berdasarkan label mazhab, padahal musuh sebenarnya adalah pihak luar yang memanfaatkan perpecahan itu.
Hal yang sama bisa kita lihat di Indonesia. Ada kelompok-kelompok dalam Islam sendiri yang kadang diperalat untuk memainkan isu sektarian. Perbedaan mazhab atau aliran dijadikan bahan provokasi, sehingga umat Islam di dalam negeri pun ikut terpecah. Padahal, kalau umat Islam sibuk bertengkar soal label, yang rugi bukan hanya satu kelompok, tapi seluruh umat.
Karena itu, Islam harus pintar dan kaya. Pintar dalam membaca situasi, tidak mudah terprovokasi. Kaya dalam arti luas: kaya ilmu, kaya ekonomi, kaya persatuan. Sebab kemiskinan, baik kemiskinan materi maupun kemiskinan pemikiran, sering mendekatkan pada kekufuran. Umat yang miskin mudah dipecah, mudah diadu, dan mudah digoyah. Sebaliknya, umat yang kaya dan cerdas akan lebih kuat, lebih mandiri, dan tidak mudah diperdaya oleh strategi adu domba.
Siapa yang untung dari perpecahan? Pihak luar. Dengan umat Islam sibuk berkonflik, mereka lebih mudah menguasai jalur energi dan perdagangan. Pasar minyak dunia ikut diuntungkan karena harga naik setiap kali ada ketegangan. Israel dan Barat juga diuntungkan: posisi Iran melemah, sementara Arab Saudi semakin bergantung pada mereka.
Dampaknya jelas: kilang minyak rusak, ekonomi terganggu, politik terpecah, dan kepercayaan antarnegara hilang karena tuduhan tanpa bukti. Semua ini adalah efek domino dari strategi adu domba yang dijalankan pihak luar.
Kesimpulannya, pengeboman kilang minyak hanyalah satu contoh bagaimana dunia Islam dijadikan arena permainan geopolitik. Serangan terjadi, tuduhan diarahkan, solidaritas melemah. Ditambah isu sektarian yang terus digoreng, dunia Islam makin terpecah. Tantangan terbesar adalah menyadari jebakan ini, memperkuat komunikasi, dan tidak mudah percaya pada narasi yang sengaja dibuat untuk memecah belah. Baik di Timur Tengah maupun di Indonesia, umat Islam harus cerdas, bersatu, dan benar-benar kaya agar tidak mudah digoyah.
Di tulis Oleh :
Adv. Yan Salma Wahab, SHI. M.Pd














